Perbedaan Samatha dan Vipassanā

Pertanyaan dari Indonesia: “Bisakah Anda jelaskan perbedaan antara samatha dan vipassanā?”

Than Ajahn: “Samatha adalah latihan menenangkan pikiran, mengheningkan pikiran, dengan menggunakan nafas sebagai objek konsentrasi. Anda ingin menghentikan batin dari berpikir. Anda perlu menjaga batin sibuk dengan melakukan sesuatu, seperti dengan memperhatikan nafas. Jika Anda dapat tetap memperhatikan nafas, akhirnya batin Anda akan berhenti berpikir, itu akan menjadi diam, dan Anda menjadi bahagia. Inilah yang kita sebut ‘samatha bhāvanā,’ praktik mengembangkan samādhi.

Begitu Anda memiliki samādhi, ketika Anda menarik diri darinya dan ketika batin Anda mulai berpikir, langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengajarkan batin untuk berpikir di jalan kebenaran, kebenaran eksistensi. Anda mengajarkan batin bahwa segala sesuatu di dunia ini tunduk pada Tiga Karakteristik. Segalanya tidak kekal. Semuanya akan membuat Anda sedih karena semuanya akan berubah, semuanya akan hilang dari Anda. Anda tidak bisa mengendalikannya. Anda tidak bisa memaksanya untuk membuat Anda bahagia sepanjang waktu. Terkadang itu membuat Anda bahagia, terkadang itu membuat Anda sedih.

Jika Anda tahu Tiga Karakteristik, maka Anda tidak akan ingin memiliki apa pun. Saat ini, ketika Anda melihat sesuatu yang Anda sukai, Anda akan berkata, ‘Jika saya mendapatkan ini, saya akan bahagia.’ Anda lupa bahwa hal yang Anda dapatkan pada akhirnya akan berubah menjadi sesuatu yang lain. Ketika hal yang telah Anda ubah menjadi sesuatu yang lain, seperti ketika itu menghilang, kebahagiaan yang Anda dapatkan darinya juga akan hilang. Dan kemudian kesedihan terjadi. Perasaan sedih akan menggantikan kebahagiaan. Ini adalah cara untuk mengembangkan kebijaksanaan sehingga batin Anda tidak akan tertipu oleh apa yang dipikirkannya.

Saat ini batin sedang didorong oleh khayalan. Itu tidak berpikir dalam kerangka realitas. Ia berpikir dalam hal apa yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri. Kenyataannya, tidak ada di dunia ini yang baik untuk batin karena segalanya cepat atau lambat, akan melukai batin. Segalanya akan berubah. Semuanya akan hilang. Ini adalah vipassanā, mengajarkan batin untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan seperti yang dipikirkan oleh batin. Segala sesuatu adalah anicca (tidak kekal), dukkha (membuatmu sedih), dan anattā (kamu tidak dapat mengendalikannya). “

  

“Sesi tanya jawab, 25 April 2018.”

Oleh Ajahn Suchart Abhijāto

###

Translated by CoRneL from the English version below:

Question from Indonesia: “Could you please explain the difference between samatha and vipassanā?”

Than Ajahn: “Samatha is the practice of calming the mind, stilling the mind, by using your breath as the object of concentration. You want to stop your mind from thinking. You need to keep the mind busy by doing something, like by watching the breath. If you can keep watching the breath, eventually your mind will stop thinking, it will become still, and you become happy. This is what we call ‘samatha bhāvanā,’ the practice of developing samādhi.

Once you have samādhi, when you withdraw from it and when your mind starts to think, the next step to do is to teach the mind to think in the way of the truth, the truth of existence. You teach the mind that everything in this world is subject to the Three Characteristics. Everything is impermanent. Everything will make you sad because everything will change, everything will disappear from you. You cannot control it. You cannot force it to make you happy all the time. Sometimes it makes you happy, sometimes it makes you sad.

If you know the Three Characteristics, then you will not want to have anything. Right now, when you see something you like, you’ll say, ‘If I get this, I will be happy.’ You forget that the thing you get will be eventually turn into something else. When the thing you have turns into something else, like when it disappears, the happiness that you get from it will also disappear. And then sadness takes place. The sad feeling will replace the happiness. This is the way to develop wisdom so that your mind will not become deceived by what it thinks.

Right now the mind is being driven by delusion. It doesn’t think in terms of reality. It thinks in terms of what it thinks is good for itself. In reality, nothing in this world is good for the mind because everything sooner or later, will hurt the mind. Everything will change. Everything will disappear. This is vipassanā, teaching the mind to see everything as it really is, not as what the mind thinks it is. Everything is anicca (impermanent), dukkha (make you sad), and anattā (you cannot control it).”

“Dhamma in English, Q&A session, Apr 25, 2018.”

By Ajahn Suchart Abhijāto

www.phrasuchart.com

Latest Dhamma talks on Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCi_BnRZmNgECsJGS31F495g